Kelurahan Gombengsari selain terkenal dengan produk susu segar kambing etawa, ternyata juga memiliki potensi lain yang luar biasa. Yaitu,...
Kelurahan Gombengsari selain terkenal dengan produk susu segar kambing etawa, ternyata juga memiliki potensi lain yang luar biasa.
Yaitu, kebun kopi terluas se-Kabupaten Banyuwangi. Dengan hamparan perkebunan kopi yang dikelola langsung oleh masyarakat, terdapat budaya petik kopi warisan turun temurun yang tetap dilestarikan.
Tradisi yang masih lestari ini kemudian dikemas dalam Festival Kembang Kopi Gombengsari (FKKG), digelar pada 7 September 2016.
Menurut Lurah Gombengsari, Moch. Farid Isnaini. Festival Kembang Kopi Gombengsari (FKKG) menjadi rangkaian hari jadi kelurahan gombengsari ke 16, dan menjadi kegiatan kedua setelah tahun kemaren mengadakan Festival Sangrai Kopi Gombengsari.
"FKKG menjadi pembuka Hari Jadi Gombengsari (Harjago) ke-16. Dimana, masih banyak lagi kegiatan-kegiatan lainnya hingga 28 Desember nanti" katanya kepada Banyuwangi TIMES.
Untuk tahun ini, tambah Farid, pihaknya mengawali Harjago sejak 6-7 September 2016, di Lingkungan Lerek sepanjang jalan menuju Perkebunan Kali Klatak dengan melibatkan seluruh masyarakat Gombengsari.
"Konsep acaranya ini adalah pemberdayaan masyarakat. Dimana, FFKG melibatatkan Kelompok Tani, kelompok Ternak, umkm RT/rw, pemuda, kube (kelompok usaha bersama) dan masyarakat secara luas serta Pokdarwis."Ucapnya.
Untuk biaya festival Kembang Kopi, Farid menjelaskan, atas swadaya masyarakat dan sponsor.
"Biayanya swadaya dari masyarakat dan dari dinas instansi terkait yg berhubungan dengan kegiatan pariwisata dan pertanian serta dari perusahaan-petusahaan yang peduli kegiatan Festival Kembang Kopi ini termasuk juga dari PT Perkebunan Kaliklatak."jelasnya.
Rangkaian acara FKKG 7 September antars lain, simulasi pengelupasan kulit kopi yang diiringi dengan musik kuntulan, perah susu kambing, Sangrai kopi dan minum susu kambing.
Srbelumnya ada acara makan bersama sebelum petik kopi, sebagsi bentuk wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rejeki berupa buah kopi yg melimpah. Dilanjutkan prosesi sangrai kopi bersama hingga prosesi menikmati hasil seduhan kopinya.
Kelurahan gombengsari, lanjut Farid, memiliki potensi wilayah berupa kebun kopi rakyat ± 400 Ha dengan produksi ± 10Kw / ha. jenis kopi yang dibudidayakan oleh para petani, yaitu kopi robusta yang memiliki sensasi coklat ketika di nikmati.
Selain kopi sebagai tanaman tumpak sari, Gombengsari juga memiliki komoditas unggulan yaitu tanaman kelapa yang sudah masuk dalam kategori PIK ( Pohon Induk Kelapa ) dengan Varietas ”Kelapa Dalam Banyuwangi“.
"Ke depannya, kami berharap, Gombengsari bisa dikembangkan menjadi desa wisata kampung kopi."pungkasnya.
Pewarta: Widie NurmahmudyEditor: HeryantoPublisher: Abdul HananSumber: Banyumas TIMES
Yaitu, kebun kopi terluas se-Kabupaten Banyuwangi. Dengan hamparan perkebunan kopi yang dikelola langsung oleh masyarakat, terdapat budaya petik kopi warisan turun temurun yang tetap dilestarikan.
Tradisi yang masih lestari ini kemudian dikemas dalam Festival Kembang Kopi Gombengsari (FKKG), digelar pada 7 September 2016.
Menurut Lurah Gombengsari, Moch. Farid Isnaini. Festival Kembang Kopi Gombengsari (FKKG) menjadi rangkaian hari jadi kelurahan gombengsari ke 16, dan menjadi kegiatan kedua setelah tahun kemaren mengadakan Festival Sangrai Kopi Gombengsari.
"FKKG menjadi pembuka Hari Jadi Gombengsari (Harjago) ke-16. Dimana, masih banyak lagi kegiatan-kegiatan lainnya hingga 28 Desember nanti" katanya kepada Banyuwangi TIMES.
Untuk tahun ini, tambah Farid, pihaknya mengawali Harjago sejak 6-7 September 2016, di Lingkungan Lerek sepanjang jalan menuju Perkebunan Kali Klatak dengan melibatkan seluruh masyarakat Gombengsari.
"Konsep acaranya ini adalah pemberdayaan masyarakat. Dimana, FFKG melibatatkan Kelompok Tani, kelompok Ternak, umkm RT/rw, pemuda, kube (kelompok usaha bersama) dan masyarakat secara luas serta Pokdarwis."Ucapnya.
Untuk biaya festival Kembang Kopi, Farid menjelaskan, atas swadaya masyarakat dan sponsor.
"Biayanya swadaya dari masyarakat dan dari dinas instansi terkait yg berhubungan dengan kegiatan pariwisata dan pertanian serta dari perusahaan-petusahaan yang peduli kegiatan Festival Kembang Kopi ini termasuk juga dari PT Perkebunan Kaliklatak."jelasnya.
Rangkaian acara FKKG 7 September antars lain, simulasi pengelupasan kulit kopi yang diiringi dengan musik kuntulan, perah susu kambing, Sangrai kopi dan minum susu kambing.
Srbelumnya ada acara makan bersama sebelum petik kopi, sebagsi bentuk wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rejeki berupa buah kopi yg melimpah. Dilanjutkan prosesi sangrai kopi bersama hingga prosesi menikmati hasil seduhan kopinya.
Kelurahan gombengsari, lanjut Farid, memiliki potensi wilayah berupa kebun kopi rakyat ± 400 Ha dengan produksi ± 10Kw / ha. jenis kopi yang dibudidayakan oleh para petani, yaitu kopi robusta yang memiliki sensasi coklat ketika di nikmati.
Selain kopi sebagai tanaman tumpak sari, Gombengsari juga memiliki komoditas unggulan yaitu tanaman kelapa yang sudah masuk dalam kategori PIK ( Pohon Induk Kelapa ) dengan Varietas ”Kelapa Dalam Banyuwangi“.
"Ke depannya, kami berharap, Gombengsari bisa dikembangkan menjadi desa wisata kampung kopi."pungkasnya.
Pewarta: Widie NurmahmudyEditor: HeryantoPublisher: Abdul HananSumber: Banyumas TIMES